Bangsa Han yang tergolong besar selalu jadi kawasan empuk bangsa di sekitarnya, Mongol menjarahnya, selanjutnya Jepang menodai negeri ini..tahukah bahwa tembok China yang besar (the great wall) itu tidak lebih dari lambang ketakutan bangsa Han atas serangan bangsa luar dari utara. kembali saya katakan, mari belajar ke bangsa Mongol, bukan berarti kita ikut-ikutan menjadi bangsa penjajah (seperti Amerika Serikat di negeri seribu satu malam), yang tidak segan membunuh atau menjarah bangsa lain seperti yang dilakukan bangsa Mongol terhadap peradaban islam dari Samarkand sampai Baghdad.
Setidaknya ada 3 hal kita harus “Belajar ke bangsa Mongol”. Pertama Bangsa Mongol menonjol karena memiliki pemimpin yang berani dan berwibawa serta berani menanggung kesalahan bawahannya, bukan pemimpin kacangan yang pengecut tidak perlu merasa bertanggungjawab atas kesalahan para menterinya juga bukan pemimpin yang hanya berkeluh kesah kapada rakyatnya, atau pemimpin yang selalu menadah tangannya dibawah memohon bantuan asing, kita rindu pemimpin Macam Soekarno yang dengan lantang berkata ” go to hell with your aid” kepada bangsa barat. Sayang prinsip ini, beberapa dekade berikutnya justru di khianati sendiri oleh bangsanya bahkan keturunannya sendiri.
Yang kedua, Bangsa Mongol memiliki persatuan yang kuat.
Sebenarnya bukan perkara gampang mempersatukan bangsa nomaden yang hidupnya berpindah-pindah dari satu kemah ke kemah yang lain, tapi oleh Hulagu khan dan Timujin bangsa ini kemudian dipersatukan jadi suatu bangsa yang kuat. Melalui Sumpah Pemuda 1928 pemuda bangsa ini pernah berikrar satu tanah Air Tanah air Indonesia, namun setelah Merdeka ikrar ini dikhianati. Orang Aceh (saya lebih senang menyebutnya Bangsa Aceh karena keberanian mereka) yang tidak pernah dijajah bangsa manapun harus kecewa dengan perlakuan pemerintah pusat, papua yang secara fisik berbeda dengan “ras melayu” pada umumnya menuntut lepas dari Indonesia karena ketidakpuasan pembangunan, kalimantan yang kaya raya tertinggal jauh dari saudara mereka di Pulau Jawa, demikian juga Sulawesi yang kaya emas dan nikel dan lainnya yang merasa adanya ketidakadilan pembagian “kue” pembangunan ini.
Kita sudah kehilangan satu generasi yang gagal mengangkat martabat bangsa ini, dan kita sama berharap kepada ilahi sang pencipta alam ini agar bangsa ini melahirkan seorang pemimpin besar yang bisa mempersatukan bangsa ini dalam bingkai kesejahteraan yang merata dan adil dengan memanfaatkan kekuatan ekonomi yang ada.
Salam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar